Pages

Sabtu, 24 Desember 2011

JAZIRAH ARAB

Keadaan Bangsa & Jazirah Arab Sebelum Islam 
          Jazirah Arab ialah sebuah Tanah Penanjung terletak di bagian Barat Daya Benua Asia dan dilingkungi oleh lautan dari tiga seginya, yaitu Lautan Merah, Lautan Hindia, Lautan 'Omman dan selat Persia. Jazirah Arab sesungguhnya tidak terdiri dari gurun sahara yang luas saja tetapi juga disitu terdapat tanah tanah yang subur yang telah ditanami semenjak beribu-ribu tahun. Sebagian orang menyangka, bahwa hidup di tengah-tengah gurun itu tidak mungkin. Biarpun panas tetapi baik buat kesehatan. Keadaan alam dan iklim Jazirah Arab memberikan sifat-sifat rajin, giat, gesit, ringan kaki dan mudah bergerak kepada penduduknya. 
          Jazirah Arab terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu bagian tengah dan bagian pesisir. Di bagian Tengah terdapat gurun Sahara yang didiami suku-suku Badui yang mempunyai gaya hidup pedesaan dan nomadik, berpindah dari satu daerah ke daerah lain guna mencari air dan padang rumput untuk kambing dan unta mereka. Adapun daerah pesisir bila dibandingkan dengan Sahara bagaikan pita yang mengelilingi Jazirah. Penduduk sudah hidup menetap dengan mata pencaharian petani dan berniaga, karena itu mereka sempat membina berbagai macam budaya, bahkan kerajaan. Masyarakat, baik nomadik maupun yang menetap hidup dalam budaya kesukuan badui. Mereka sangat menekankan hubungan kesukuan sehingga kesetiaan atau solidaritas kelompok menjadi sumber kekuatan bagi suatu kabilah atau suku. Mereka suka berperang, karena itu peperangan antar suku sering sekali terjadi, sikap ini nampaknya telah manjadi tabiat yang menjadi darah daging dalam orang Arab. Dalam masyarakat yang suka berperang tersebut, nilai wanita menjadi sangat rendah. Situasi ini terus berlangsung sampai agama Islam lahir. Akibat peperangan terus menerus membuat kebudayaan mereka tidak berkembang, karena itu bahan-bahan sejarah Arab pra-Islam sangat langka didapatkan di dunia Arab dan dalam bahasa Arab. 
          Dengan kondisi alami yang seperti tidak pernah berubah itu, masyarakat Badui pada dasarnya tetap berada dalam fitrahnya. Kemurniannya terjaga, jauh lebih murni dari bangsa-bangsa lain. Dasar-dasar kehidupan mereka mungkin dapat disejajarkan dengan bangsa- bangsa yang masih berada dalam taraf permulaan perkembangan budaya. Bedanya dengan bangsa lain, hampir seluruh penduduk Badui adalah seorang penyair. Melihat bahasa dan hubungan dagang bangsa Arab, Leboun berkesimpulan, tidak mungkin bangsa Arab tidak pernah memiliki peradaban yang tinggi, apalagi hubungan dagang itu berlangsung selama 2000 tahun. Ia yakin, bangsa Arab ikut memberi saham dalam peradaban dunia, sebelum mereka bangkit kembali pada masa Islam.

0 komentar:

Poskan Komentar