Jumat, 23 Desember 2011

RIWAYAT HIDUP NABI MUHAMMAD SAW

Sebelum Masa Kerasulan
          Ketika Nabi Muhammad SAW lahir, Mekkah adalah kota yang sangat penting dan terkenal diantara kota-kota di negeri arab. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai menghubungkan Yaman di selatan dan Syria di utara. Dengan adanya Ka'bah di tengah kota, Mekkah menjadi pusat keagamaan Arab. Ka'bah adalah tempat mereka berziarah. Di dalamnya terdapat 360 berhala, mengelilingi berhala utama, Hubal, yang dianggap sebagai dewa terbesar. Berhala-berhala itu mereka jadikan tempat menanyakan dan mengetahui nasib baik dan nasib buruk.
          Nabi Muhammad SAW adalah anggota Bani Hasyim, suatu kabilah yang kurang berkuasa dalam suku Quraisy. Ayahnya bernama Abdullah anak dari Abdul Muthalib, seorang kepala suku Quraisy yang besar pengaruhnya. Ibunya adalah Aminah binti Wahab dari Bani Zuhrah. Tahun kelahiran Nabi terkenal dengan nama tahun gajah (570 M). Dinamakan demikian karena pada tahun itu pasukan Abrahah, gubernur kerajaan Habsyi (Ethiopia) dengan menunggang gajah menyerbu Mekkah untuk menghancurkan Ka'bah.
          Muhammad lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya meninggal dunia 3 bulan setelah dia menikahi Aminah. Muhammad kemudian diserahkan kepada ibu pengasuh, Halimah Sa'diyyah sampai usia 4 tahun. Setelah itu, kurang lebih 2 tahun Ia berada dalam asuhan ibu kandungnya. Ketika menginjak usia 6 tahun dia menjadi yatim piatu, seakan-akan Allah SWT ingin melaksanakan sendiri pendidikan Muhammad, orang yang dipersiapkan untuk membawa risalah-Nya yang terakhir. Allah SWT berfirman: "Bukankah Allah mendapatimu sebagai anak yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Allah mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberimu petunjuk" (QS 95: 6-7).
          Setelah Aminah meninggal, Abdul Muthalib mengambil alih tanggung jawab merawat Muhammad. Namun, 2 tahun kemudian dia meninggal dunia karena renta. Tanggung jawab selanjutnya beralih kepada pamannya, Abu Thalib. Seperti juga Abdul Muthalib, dia sangat disegani dan dihormati orang Quraisy dan penduduk Mekkah secara keseluruhan, tetapi dia miskin. Dalam usia muda Muhammad hidup sebagai penggembala kambing keluarganya dan kambing penduduk kota Mekkah. Melalui kegiatan penggembalaan ini dia menemukan tempat untuk berpikir dan merenung. Dalam suasana demikian, dia ingin melihat sesuatu dibalik semuanya. Pemikiran dan perenungan ini membuatnya jauh dari segala pemikiran nafsu duniawi, sehingga Ia terhindar dari berbagai macam noda yang dapat merusak namanya, karena itu sejak muda Ia sudah dijuluki al-amin, orang yang terpercaya.
          Nabi Muhammad SAW ikut untuk pertama kali dalam kafilah dagang ke Syam (Syria) dalam usia 12 tahun. Kafilah itu dipimpin oleh Abu Thalib. Dalam perjalanan ini, di Bushra, sebelah selatan Syria, Ia bertemu dengan pendaeta Kristen bernama Buhairah. Pendeta ini melihat tanda-tanda kenabian pada Muhammad sesuai dengan petunjuk cerita-cerita Kristen. Sebagian sumber menceritakan bahwa pendeta itu menasehatkan Abu Thalib agar jangan terlalu jauh memasuki daerah Syria, sebab dikuatirkan orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadapnya.
          Pada usia yang ke 25, Muhammad berangkat ke Syria dengan membawa barang dagangan saudagar wanita kaya raya yang telah lama menjanda, Khadijah. Dalam perdagangan ini, Muhammad memperoleh laba yang besar. Khadijah kemudian melamarnya. Lamaran ini diterima dan perkawinan segera dilaksanakan ketika usia Muhammad 25 tahun dan Khadijah 40 tahun. Dalam perkembangan selanjutnya, Khadijah adalah wanita pertama yang masuk Islam dan banyak membantu nabi dalam perjuangan menyebarkan Islam. Mereka kemudian di karuniai 6 orang anak, 2 putera dan 4 puteri: Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kulsum, dan Fatimah. Kedua puteranya meninggal waktu kecil. Nabi Muhammad tidak kawin lagi sampai Khadijah meninggal ketika Muhammad berusia 50 tahun.
Masa Kerasulan
          Menjelang usianya yang ke 40, dia sudah terbiasa memisahkan diri dari kegalauan masyarakat, berkontemplasi ke gua Hira, beberapa kilometer di utara Mekkah. Pada tanggal 17 Ramadhan tahun 611 M, Malaikat Jibril muncul di hadapannya, menyampaikan wahyu Allah yang pertama: "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah mencipta. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu itu maha mulia. Dia telah mengajar dengan Qalam. Dia telah mengajar manusia apa yang tidak mereka ketahui" (QS 96: 1-5). Dengan turunnya wahyu pertama itu, berarti Muhammad telah dipilih Allah SWT sebagai Nabi. Dalam wahyu pertama ini, dia belum diperintahkan untuk menyeru manusia kepada suatu agama. Setelah wahyu pertama itu datang , Jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama, sementara Nabi Muhammad menantikannya dan selalu datang ke gua Hira. Dalam keadaan menanti itulah turun wahyu yang membawa perintah kepadanya, wahyu itu berbunyi sebagai berikut: "Hai orang yang berselimut. Bangun dan beri ingatlah. Hendaklah engkau besarkan Tuhanmu. Dan bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkanlah perbuatan dosa. Dan janganlah engkau memberi (dengan maksud) memperoleh balasan yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah" (Al-Mudatstsir: 1-7). Dengan turunnya perintah tersebut, mulailah Rasulullah berdakwah. Pertama-tama, beliau melakukannya secara diam-diam di lingkungannya sendiri dan di kalangan rekan-rekannya. Mula-mula istrinya Khadijah, sepupunya Ali bin Abi Thalib, sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak Abu Bakar. Lalu Zaid, bekas budak yang telah menjadi anak angkatnya, Ummu Aiman, pengasuh Nabi sejak ibunya Aminah masih hidup. Sebagai seorang pedagang yang berpengaruh, Abu Bakar berhasil mengislamkan beberapa orang teman dekatnya, seperti Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin 'Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidilllah. Mereka dibawa Abu Bakar langsung kepada Nabi dan masuk Islam di hadapan Nabi sendiri.
          Setelah beberapa lama dakwah tersebut dilakukan secara diam-diam, turunlah perintah agar Nabi menjalankan dakwah secara terbuka. Mula-mula Ia mengundang dan menyeru kerabat karibnya dari Bani Abdul Muthalib. Ia mengatakan kepada mereka, "Saya tidak melihat seorang pun di kalangan Arab yang dapat membawa sesuatu ke tengah-tengah mereka lebih baik dari apa yang saya bawa kepada kalian. Kubawakan kepadamu dunia dan akhirat yang terbaik. Tuhan memerintahkan saya mengajak kalian semua. Siapakah di antara kalian yang mau mendukung saya dalam hal ini?". Mereka semua menolak kecuali Ali. Setelah dakwah terang-terangan itu, pemimpin Quraisy mulai berusaha menghalangi dakwah Rasul. Menurut Ahmad Syalabi, ada 5 faktor yang mendorong orang Quraisy menentang seruan Islam itu:
(1). Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan. Mereka mengira bahwa tunduk kepada seruan Muhammad berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani Abdul Muthalib. Yang terakhir ini sangat tidak mereka inginkan.
(2). Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya. Hal ini tidak disetujui oleh kelas bangsawan Quraisy.
(3). Para pemimpin Quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat.
(4). Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat berakar pada bangsa Arab.
(5). Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rezeki.
Banyak cara di tempuh untuk menghentikan dakwah Rasulullah SAW, termasuk mengutus Utbah bin Rabiah, seorang ahli retorika untuk membujuk Nabi. Mereka menawarkan tahta, wanita, dan harta. Semua tawaran itu ditolak Muhammad dengan mengatakan: "Demi Allah, biarpun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti melakukan ini, hingga agama ini menang atau aku binasa karenanya".
          Setelah cara-cara diplomatik dan bujuk rayu gagal di tempuh, tindakan-tindakan kekerasan pun mulai intensif dilakukan. Tapi semakin kejam mereka memperlakukan umat Islam, semakin banyak orang yang masuk agama ini. Bahkan di tengah meningkatnya kekejaman itu, dua orang kuat Quraisy masuk Islam, Hamzah dan Umar bin Khathab. Dengan masuk Islamnya 2 tokoh besar ini posisi umat Islam semakin kuat. Menguatnya posisi umat Islam memperkeras reaksi kaum musyrik Quraisy. Tidak lama kemudian, Abu Thalib paman Nabi yang merupakan pelindung utamanya meninggal dunia dalam usia 87 tahun. 3 hari setelah itu, Khadijah istri beliau pun meninggal juga. Peristiwa itu terjadi di tahun ke 10 kenabian. Untuk menghibur Nabi yang sedang ditimpa duka, Allah mengisra' dan memikrajkan beliau. Berita tentang Isra' dan Mikraj ini menggemparkan masyarakat Mekkah. Setelah peristiwa itu, suatu perkembangan besar bagi kemajuan dakwah Islam muncul. Perkembangan mana datang dari sejumlah penduduk Yastrib yang berhaji ke Mekkah. Mereka terdiri dari suku Aus' dan Khazraj masuk Islam dalam 3 gelombang. Mereka pun meminta kepada Nabi agar berkenan pindah ke Yastrib. Mereka berjanji akan membela Nabi dari segala ancaman. Nabi pun menyetujui usul mereka. Sementara itu, penduduk Yatsrib menunggu-nunggu kedatangannya, waktu yang mereka tunggu-tunggu itupun akhirnya tiba. Nabi memasuki Yatsrib dan penduduk kota ini mengelu-elukan kedatangan beliau dengan penuh kegembiraan. Sejak itu, sebagai penghormatan terhadap Nabi, nama kota Yatsrib di ubah menjadi Madinatun Nabi (kota Nabi) atau sering pula disebut Madinatul Munawwarah (kota yang bercahaya), karena dari sanalah sinar Islam memancar ke seluruh dunia. Dalam istilah sehari-hari, kota ini cukup disebut Madinah saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar